Jiwa Kerdil Sang Koruptor

MALANG! Kondisi Indonesia semakin parah. Kini banyak manusia yang berjiwa kerdil yang selalu berpikir untuk memanfaatkan uang negara untuk kepentingan pribadi. Pengerat, seperti binatang pengerat.

KORUPSI menjadi salah satu langkah untuk mendapatkan kesempatan memperkaya diri tersebut. Padahal perbuatan itu sangat merugikan negara maupun masyarakat pembayar pajak. Tanpa disadari uang yang dikorupsi adalah uang yang kebanyakan dari hasil rakyat yang membayar pajak. Seharusnya pajak tersebut dikembalikan kepada masyarakat dengan cara melaksanakan pembangunan, sehingga masyarakat  juga dapat merasakan pajak yang telah dibayarkan.

Lucunya, kini para koruptor sudah tak lagi malu-malu untuk melancarkan aksinya. Semua cara ditempuh, kolusi antara koruptor dengan pejabat penegak hukum pun kini sudah terang-terangan dilakukan untuk memperlancar aksinya. Etika maupun sumpah jabatan tampaknya sudah dipinggirkan, dan itu hanya dijadikan sebagai hiasan dinding belaka. Terbukanya kran informasi, membuat hal-hal itu terekspos dengan pulgar.

Biarlah. Biarlah itu menjadi pelajaran bagi koruptor yang tertangkap. Setidaknya setelah dipublikasikan secara luas, menjadi hukuman moral bagi mereka –koruptor–. Tinggal hukuman badan yang dinantikan masyarakat, apakah penegak hukum dapat menentukan sikap yang adil tanpa harus terinterpensi dengan kepentingan yang menguntungkan koruptor.

Mungkin ada benarnya lirik lagu Iwan yang menyebutkan, jadi penjahat berkedok pahlawan. Jika tidak jeli, seolah-olah ketika pejabat publik atau pejabat negara berbicara di hadapan rakyat, merekalah yang sangat berjasa melakukan pembangunan di negeri ini. Sehingga mereka sudah sepantasnya disebut sebagai pahlawan. Dan ironisnya yang mempunyai sifat kerdil seperti ini banyak sekali. Kasihannya orang yang benar-benar ingin berbuat banyak kepada negara dan masyarakat yang menjadi korbannya. Berada di lingkaran yang sudah tercemar, mau tidak mau orang tersebut akan menjadi korban, walaupun pada dasarnya ia tak melakukan hal-hal yang tidak terpuji.

Tak tahu apa solusi yang dapat ditawarkan untuk memutuskan lingkaran/mata rantai KKN ini. Semakin banyak lembaga yang dibentuk untuk melakukan pengawasan semakin banyak terjadi aksi korupsi. Malah aksi itu juga didukung oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan jabatannya untuk menekan, menindas dan mencari peluang.

Ibarat kata, sebutir batu pun kalau diperas harus menghasilkan air. Padahal kita tahu, akan sulit untuk mendapatkan air dari hasil perasan batu. Tapi ini lah kenyataannya. Saling ‘makan’ manusia sudah menjadi tradisi dan bukan persoalan aneh. Bahkan jika tak ada lagi manusia hantu bahkan jin pun ‘dimakan’.

Para koruptor ini ironisnya mendapatkan tempat yang enak, jika ia tertangkap dan dimasukan ke dalam kurungan penjara alias bui. Mungkin ia tak merasakan penderitaan ketika berada di dalam penjara, sebab ruangnya diberikan terpisah dengan tahanan/narapidana lain. Bersih dan indah layaknya kamar hotel. Kenapa? apa koruptor sudah terlanjur menjadi orang kaya, sehingga dengan uang yang dimilikinya dapat mendapatkan apa yang dimau. Yang lebih membuat sakit masyarakat, ketika hukuman dijatuhkan kepada sang koruptor tak lebih dari terdakwa kasus maling telur ayam.

Ini mungkin membuat orang yang mempunyai kesempatan untuk melakukan tindak tersebut, menjadi semakin berani. Kenapa? Karena hukumannya ringan, sementara hasil yang didapatkan tak menutup kemungkinan bisa digunakan untuk seumur hidup, bahkan hingga anak cucu bisa menikmati. Tak ketahuan akan semakin kaya, dan jika ketahuanpun tak membuat mereka menjadi miskin.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.